image

Beberapa waktu belakangan sedang  membaca buku tentang Manipulasi Laporan Keuangan yang sangat menarik dan sekaligus cukup membuat lelah mata untuk membacanya. Tiba-tiba teringat kasus penyimpangan laporan keuangan Toshiba yang mengemuka pada bulan Juli 2015 lalu.
Entah karena sedang semangat entah memang karena terinspirasi buku yang sedang dibaca, saya terdorong untuk mencari tahu lebih jauh tentang kasus Toshiba ini. Setelah googling beberapa waktu, berikut sekelumit catatan tentang kasus Toshiba ini:

Kita tentunya tak asing dengan nama raksasa elektronik asal Jepang, Toshiba Corporation. Produknya banyak menghiasi perkakas rumah, meski lini bisnisnya tidak hanya itu. Bahkan di rumah orang tua saya, kulkas dan televisi Toshiba sudah berusia kepala dua. Dikenal sebagai perusahaan dengan laju inovasinya yang terdepan serta banyak mewarnai referensi buku bisnis dengan berbagai prestasi. Salah satunya karya firma hukum Mori Hamada & Matsumoto yang menceritakan tentang bagusnya tata kelola dalam perusahaan. Toshiba menduduki peringkat sembilan dari 120 perusahaan publik di Jepang dalam Good Governance Practice. Mencerahkan para pelaku bisnis sehingga ingin melakukan hal serupa di perusahaan mereka. Namun sayangnya beberapa tahun mendatang, besar kemungkinan kita akan membaca tentang Toshiba dalam peran berbeda, yaitu sebagai pesakitan.

Toshiba terbukti melakukan apa yang disebut oleh Komite Investigasi Independen sebagai ‘Pengkhianatan Kepercayaan’. Pasalnya perusahaan berusia 140 tahun itu telah membohongi publik dan investor dengan cara menggelembungkan keuntungan di laporan keuangan. Dan itu dilakukan bukan jumlah kecil dan tidak dalam tempo setahun dua tahun. Tak tanggung-tanggung overstated profit 1,2 Miliar US Dollar sejak tahun fiskal 2008! Yang lebih memprihatinkan keadaan tersebut memang direstui oleh petinggi Toshiba sendiri.

Laporan resmi dirilis dua bulan setelah komite yang diketuai Koichi Ueda dan beranggotakan beberapa pakar akuntansi Jepang menginvestigasi Toshiba dan sampai pada kesimpulan telah terjadi penyimpangan. Menyentuh unit bisnis personal computer, semikonduktor hingga reaktor nuklir. Esok harinya, 21 Juli 2015, delapan dari 16 petinggi Toshiba yang terlibat skandal akuntansi resmi mengundurkan diri. Termasuk diantaranya Presiden Direktur Hisao Tanaka, Wakil Presdir Norio Sasaki dan Chief Executive Atsutoshi Nishida.

Besarnya angka, rentang waktu yang tidak sebentar, juga keterlibatan Top Management memberi gambaran kepada kita betapa kronis dan kompleksnya penyakit dalam tubuh Toshiba. Penyelewengan dilakukan secara berjamaah, sistematis dan cerdas. Sekian lapis sistem kontrol dari mulai divisi akuntansi, keuangan, internal audit, tidak berfungsi sama sekali. Bagaimana akan berfungsi, bahkan oknumnya dari staff senior mereka yang sudah hafal seluk beluk perusahaan. Seiya Shimaoka, seorang internal auditor, mencurigai kecurangan dan berusaha melaporkan tapi malah dianggap angin lalu oleh atasannya sendiri seperti yang dilansir jurnalis Financial Times. Sedemikian rapi dan cerdasnya hingga tim auditor eksternal sekelas Ernst & Young (EY) tak mampu mencium aroma busuk dari laporan keuangan Toshiba. Belum ada dugaan kantor akuntan itu terlibat dalam skandal.

CEO memang tidak menginstruksikan langsung untuk melakukan penyimpangan tetapi memasang pencapaian target yang tinggi. Ini yang membuat karyawan pusing kepala. Apalagi ditambah budaya Toshiba yang kurang baik: tidak bisa melawan atasan. Maksudnya melawan adalah koreksi atas kesalahan manajemen mengambil keputusan. Dalam kasus Toshiba, bawahan tidak bisa mengkoreksi penetapan target oleh CEO yang bahkan tidak realistis dengan kondisi bisnis dan perusahaan. Bahasa mudahnya, CEO berkata, “Terserah kamu mau ngapain, pokoknya akhir tahun harus profit!”

Selain itu, sistem kompensasi karyawan yang dihitung dari kinerja keuangan juga turut andil di dalamnya. Maka muncullah ide-ide kreatif dari karyawannya untuk mencapai target yang ditetapkan. Celakanya kreatifitas kali ini bukan dalam riset pengembangan atau pemasaran namun dalam hal perlakuan akuntansi. Dibuatlah laporan keuangan dengan profit tinggi padahal tidak mencerminkan keadaan yang sebenarnya.

Guna mempercantik kinerja keuangannya, Toshiba melakukan berbagai cara baik mengakui pendapatan lebih awal atau menunda pengakuan biaya pada periode tertentu namun dengan metode yang menurut investigator tidak sesuai prinsip akuntansi,. Seperti kesalahan penggunaan percentage-of-completion untuk pengakuan pendapatan proyek, cash-based ketika pengakuan provisi yang seharusnya dengan metode akrual, memaksa supplier menunda penerbitan tagihan meski pekerjaan sudah selesai, dan lain semisalnya. Detail teknis penyimpangan akuntansi oleh Toshiba dapat diakses dari link laporan resmi berikut.

Kasus Toshiba bukanlah yang pertama di Jepang atau dunia. Perusahaan serumpun Olympus lebih dulu tergelincir pada 2011. Apalagi kasus Enron yang dianggap the biggest audit failure in the century karena melibatkan salah satu dari lima KAP terbesar saat itu Arthur Anderson, telah menginspirasi lahirnya aturan baru Sarbanes-Oxley/SOX. Pakar akuntansi dan keuangan dunia sudah sedemikian rinci dan ketatnya mengatur masalah kepatuhan tersebut. Namun tetap saja penyimpangan kerap terjadi.

Dan perjuangan Toshiba kini harus lebih keras dari sebelumnya. Selain bangkit dari keterpurukan kinerja finansial, mereka perlu mencari kembali mutiara yang tak ternilai harganya yaitu mengembalikan kepercayaan publik. Transformasi budaya perusahaan nampaknya bakal jadi agenda penting.

References:

https://www.toshiba.co.jp/about/ir/en/news/20150725_1.pdf

http://jurnalakuntansikeuangan.com/2012/05/akuntansi-pendapatan-beberapa-macam-metode-pengakuan-pendapatan/

http://www.forbes.com/sites/eamonnfingleton/2015/07/22/the-toshiba-affair-an-incompetent-press-and-a-big-big-unanswered-question/

http://blogs.wsj.com/briefly/2015/07/21/5-things-to-know-about-toshibas-accounting-scandal-2/

http://www.bloomberg.com/news/articles/2015-07-21/toshiba-executives-resign-over-1-2-billion-accounting-scandal

http://www.economist.com/news/business/21659758-corporate-japan-reeling-after-big-accounting-scandal-toshiba-load-tosh

http://www.ft.com/cms/s/0/68365b68-2faf-11e5-91ac-a5e17d9b4cff.html#axzz3h4SFuPEe

http://www.reuters.com/article/2015/07/20/us-toshiba-accounting-idUSKCN0PU0E920150720

http://asianextractor.com/2015/07/17/toshibas-accounting-firm-ernst-young-that-signed-off-on-years-of-inappropriately-calculated-earnings-going-under-the-microscope-next-by-accountants-association-toshiba-chiefs-to-quit-as-pa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s